school and education

Hubungi Kami

Telp  (0335) 420266 (Sekertariat)
Telp (0335)  421113  (Pemadam Kebakaran)

Satpol PP Polisi Pamong Praja, Penegak Perda Tabah jiwa satria, Tak kenal lelah Hymne

Lagi, Satpol PP Segel Tempat Usaha Hiburan Tak Berizin

Lagi, Satpol PP Segel Tempat Usaha Hiburan Tak Berizin

Upaya penegakan peraturan daerah terus digencarkan Satpol PP Kota Probolinggo. Terbaru, dua tempat usaha, yakni sebuah kafe dan tempat karaoke disegel Satpol PP, Jumat (11/11) siang.

Upaya ini merupakan tindak lanjut dari penegakan sejumlah perda yang telah ditetapkan, yakni Peraturan Daerah Kota Probolinggo Nomor 6 tahun 2021 tentang  Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat, Peraturan Daerah  Kota Probolinggo Nomor 9 tahun 2021 tentang  penataan, pengawasan, dan pengendalian tempat hiburan, dan Peraturan Daerah  Kota Probolinggo Nomor 3 tahun 2015 tentang  Pengendalian dan Pengawasan terhadap Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol

Kepala Satpol PP Kota Probolinggo, Aman Suryaman menyebutkan pihaknya menyegel dua tempat usaha ini dikarenakan tidak memiliki izin resmi dari pemerintah daerah.

Menurutnya, kegiatan penutupan dan penyegelan berjalan dengan lancar. Pemilik usaha sendiri menyadari bahwa mereka bersalah. “Dua tempat usaha ini lokasinya di Mayangan. Alhamdulillah, upaya penutupan berjalan lancar dan kondusif, tidak ada perlawanan. Pemilik usaha menyadari kesalahannya,” terang Aman.

Pada proses penutupan ini pun, pemilik usaha bersedia menandatangani surat pernyataan dan mendapatkan pengarahan dari MUI Kecamatan Mayangan.

Wali Kota Habib Hadi Segel Tempat Hiburan Karaoke

Wali Kota Habib Hadi Segel Tempat Hiburan Karaoke

Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin memimpin langsung penyegelan  salah satu ruangan di Hotel Tampiarto yang beroperasi sebagai tempat hiburan karaoke keluarga, Selasa (1/11) siang. Operasi terpadu penertiban penegakan perda ini melibatkan Satpol PP, jajaran TNI/Polri, Camat Kanigaran, MUI, PC NU dan PD Muhammadiyah.

Penindakan ini dilakukan lantaran beredarnya e-flyer karaoke keluarga di kalangan masyarakat yang bertempat di Hotel Tampiarto sekaligus melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kota Probolinggo Nomor 9 Tahun 2015 tentang penataan, pengawasan, dan pengendalian usaha tempat hiburan.

Setibanya di lokasi, Wali Kota Habib Hadi langsung masuk ke dalam hotel dan mendatangi ruangan tersebut. Namun, ruangan itu terkunci. Kemudian Habib Hadi berdiskusi dengan pemilik hotel Maharianto dan tetap melakukan penyegelan.

Alhamdulillah, hari ini kita telah menindaklanjuti adanya e-flyer yang beredar tentang family karaoke di Hotel Tampiarto. Kemarin sudah dipanggil Dispopar, sudah diberi tahu karena tidak ada izin sesuai dengan Perda di tahun 2015. Sekaligus saya melakukan penyegelan dan kami diskusi dengan pemilik hotel agar tidak ada salah persepsi atas apa yang kita lakukan karena adanya tempat karaoke,” terangnya.

Habib Hadi menegaskan pemilik hotel berkomitmen membantu pemerintah agar tidak ada lagi aktivitas-aktivitas yang tidak diinginkan. “Jangan berharap ada tempat-tempat hiburan yang akan bermunculan di Kota Probolinggo. Karena aturan sudah jelas dan tidak ada lagi tempat-tempat hiburan yang melanggar norma-norma kesusilaan di wilayah Kota Probolinggo bermunculan,” tandasnya.

Wali Kota Habib Hadi juga meminta pihak hotel ikut menjaga dan memantau agar nama baik hotel tetap terjaga. “Sekarang sudah disegel, kita lihat saja segelnya rusak atau tidak nanti?. Saya sudah sampaikan ke pemilik hotel supaya dipantau dan dijaga karena kita mempercayakan adanya keberlangsungan komitmen ini,” imbuhnya.

Walau sempat mendapat perlawanan dari pengelola tempat karaoke, namun wali kota menganggap mereka hanya berupaya memberikan penjelasan terkait pengajuan izin usaha. “Tetapi kan sudah ada perdanya dan perdanya melarang apalagi di kawasan ini ada tempat pendidikan, sudah jelas tidak boleh. Yang terpenting sudah kita segel dan tidak ada lagi aktivitas. Apabila ada aktivitas lagi maka kita akan turun kembali dengan langkah-langkah yang sesuai dengan hukum yang berlaku,” tutupnya.

Sementara itu, menurut Maharianto, karaoke 88 yang dulu dimiliki Hotel Tampiarto sudah ia tutup. Sedangkan pihak pengelola karaoke di hotelnya saat ini hanya menyewa enam kamar selama satu tahun yang digunakan untuk karaoke. “Saya tidak setuju sama sekali (untuk karaoke). Kalau minta perizinan silahkan ke wali kota,” katanya. Maharianto pun mengatakan akan berkomitmen dengan pemerintah kota.

Dukungan penyegelen tempat hiburan berkedok karaoke keluarga tetapi menyebarkan penjualan miras itu juga disampaikan oleh MUI setempat. “Kami sangat sangat melarang apalagi dekat dengan pendidikan. Hotel di Probolinggo jangan sampai dirusak oleh kebijakanya sendiri termasuk manajemen. Disayangkan kok bisa. Rekomendasi kami ikuti aturan yang ada, itu sudah aman. Dilanggar akan menjadi masalah,” tegas Ketua Komisi Hubungan Pemerintah dan Ulama Haji Sodik.

Nekat Beroperasi Bakal Ditindak Sesuai Aturan

Ditemui usai kegiatan, Kepala Satpol PP Aman Suryaman mengungkapkan tempat usaha yang beroperasi di Hotel Tampiarto tidak hanya melanggar Perda Kota Probolinggo Nomor 9 Tahun 2015 tetapi juga melanggar Perda Nomor 6 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan ketertiban umum, ketentraman, dan perlindungan masyarakat. Ditambah dengan adanya masukan dari masyarakat dan tokoh masyarakat yang mulai resah terkait dengan aktivitas usaha yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat.

“Tadi juga dihadiri MUI, PC NU dan PD Muhammadiyah, mereka mengapresiasi sekali langkah ini karena kita harus menjaga jangan sampai mencoreng nama Kota Probolinggo dan menjadi keresahan masyarakat. Forkopimda juga sangat mendukung, inilah wujud dari sinergitas diantara pemerintah kota dan stakeholder,” ujarnya.

Sesuai aturan, lanjut Aman, penyegelan dilakukan untuk menghentikan segala aktivitas. “Beberapa waktu yang lalu kami telah melakukan operasi pengawasan dan masih ada aktivitas sehingga untuk menguatkan untuk dilakukan segel agar mereka tidak bisa melakukan aktivitas. Dengan disegel ini berarti sudah memiliki kekuatan hukum dan ada hukum pidananya jika segel itu rusak dan ada aktivitas lagi disitu berarti sudah melanggar aturan dan Kepolisian nantinya yang akan menindak,” bebernya.

Senada dengan wali kota, mantan Kepala Diskominfo ini menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan penindakan sesuai dengan tupoksi dan aturan yang ada. Seperti yang disampaikan wali kota, Pemkot Probolinggo punya kebijakan terkait kegiatan usaha seperti hiburan malam tidak ada lagi di Kota Probolinggo.

Dan, ini sudah tertuang dalam kebijakan pemerintah kota melalui perda nomor 9 tahun 2015 tentang penataan, pengawasan dan pengendalian usaha tempat hiburan dan diperkuat perwali nomor 44 tahun 2021 tentang peningkatan pengawasan untuk kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan kerawanan ketentraman dan ketertiban masyarakat.

“Jadi kami harapkan investasi-investasi yang terkait dengan pelanggaran kamtibmas seperti hiburan malam, karaoke dan sebagainya, maka akan kita awasi aktivitasnya dan akan kita lakukan penindakan sesuai dengan SOP dan aturan-aturan yang ada,” bebernya.

Respon Cepat, Satpol PP Tertibkan Tiga Warung Remang-Remang Disegel,Amankan 10 Wanita Purel Pemandu Lagu

Respon Cepat, Satpol PP Tertibkan Tiga Warung Remang-Remang Disegel,Amankan 10 Wanita Purel Pemandu Lagu

Upaya penegakan peraturan daerah di Kota Probolinggo terus dilakukan. Jumat malam (14/10), Satpol PP setempat menggelar razia penyakit masyarakat (pekat) menyasar warung remang-remang yang melanggar perda.

Hasilnya, tiga warung remang-remang yang melanggar disegel. Sejumlah pemandu lagu dan pemilik warung remang-remang diamankan. Serta sejumlah minuman keras (miras) disita.

Dari pantauan di lapangan, tim Satpol PP pertama menyasar tiga warung remang-remang di sekitaran Triwung Kidul. “Kami dapat info di warung itu menjual miras dan ada aktivitas karaoke,” terang Kasatpol PP Kota Probolinggo Aman Suryaman.

Ternyata info yang didapat itu benar. Dari 3 warung remang-remang di sekitar Triwung Kidul itu ditemukan 10 pemandu lagu. Mereka langsung diciduk dibawa ke Mako Satpol PP.

Dari 10 pemandu lagu yang diamankan, 5 diantaranya tercatat warga Kota Probolinggo. Yakni R, 30; U, 37; I, 25; DJ, 41; S, 19). Lima lainnya warga Kabupaten Probolinggo. Yakni W, 26; KH 40; IH 27; SD, 33, dan A, 40.

Tiga pemilik warung juga diamankan di mako Satpol PP. Dua diantaranya warga Kota Probolinggo (SA, 34; M, 40). Serta satu warga Kabupaten Probolinggo, W, 33.

Selain itu, petugas penegak perda juga menemukan sejumlah miras. Yakni 5 botol arak, 2 botol bir, 2 botol anggur merah. Ada juga sejumlah botol miras yang sudah kosong.

Ketiga warung remang-remang yang kedapatan menjual miras dan ada aktivitas karaoke pun langsung disegel. Mereka dinilai melanggar peraturan daerah Kota Probolinggo nomor 6 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum, Ketentraman dan Pelindungan Masyarakat.

Serta Peraturan Daerah Kota Probolinggo nomor 3 tahun 2015, tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol.

“Pemandu lagu dan pemilik warung remang-remangnya kami beri pembinaan. Nanti kami proses pembinaan dan pantau terus dengan tim dari kelurahan dan kecamatan,” jelas Aman.

Saat petugas melakukan Razia, ada satu warung yang tutup. Nantinya, warung itu juga akan terus dipantau. “Kami akan tindak terus. Menertibkan tempat tempat usaha yg melanggar,” janji Aman.

Dalam razia Jumat malam itu, petugas Satpol PP sejatinya tak hanya menggelar razia di warung remang-remang kawasan Triwung Kidul. Petugas juga mendatangi sebuah kafe di Mayangan. Namun di kafe itu, tak ditemukan aktivitas melanggar.

Operasi Cukai, Petugas Kembali Temukan Ribuan Rokok Ilegal

Operasi Cukai, Petugas Kembali Temukan Ribuan Rokok Ilegal

Setelah sepekan lalu melakukan operasi Barang Kena Cukai (BKC ) Ilegal, tim gabungan kembali menggelar operasi serupa, Rabu (28/9). Dari empat lokasi yang disasar, dua toko kedapatan menjual rokok tanpa cukai berbagai merk yang kemudian disita oleh petugas.

Ya, petugas Satpol PP bersama personel dari Bea Cukai dan Polres Probolinggo Kota menyasar empat lokasi antara lain sebuah toko di Jalan Pahlawan, Terminal Bus Bayuangga, toko di Jalan Cokroaminoto gang XI dan toko di Kelurahan Mayangan. Total rokok tanpa cukai yang diamankan sebanyak 61 bungkus atau 1.220 batang.

“Ketika ada laporan deteksi dini, kami tindak lanjuti bersama tim gabungan langsung bergerak menuju lokasi yang sudah ditarget. Dan, ternyata benar di dua toko kami menemukan beberapa merk rokok tanpa dilengkapi cukai yang legal,” terang Kepala Satpol PP Aman Suryaman.

Mantan Kepala Diskominfo ini mengungkapkan, selama operasi berlangsung, di toko Jalan Pahlawan, Kelurahan Tisnonegaran, petugas menyita rokok tanpa cukai yang disimpan oleh pemiliknya di bawah etalase. Rokok yang diamankan merk Respect 2 bungkus, Aswad 3 bungkus, Djaran Goyang 1 bungkus, Pasti Pas 2 bungkus, Seven Hitam 2 bungkus, Seven Biru 2 bungkus, Sinar Purnama 2 bungkus, SP 86 1 bungkus, DT 1 bungkus.

Sedangkan di toko yang masuk wilayah Kelurahan Mayangan ditemukan rokok Merk Premier Menthol 22 bungkus, Grand Premium 15 bungkus, Dalil 5 bungkus, Seven 3 bungkus. Sementara di tempat sasaran lainnya nihil temuan.

“Operasi gempur rokok ilegal ini bertujuan untuk menekan peredaran rokok ilegal di wilayah Kota Probolinggo. Sekaligus kami mengamankan penerimaan negara. Akan kami tingkatkan terus sosialisasi dan operasi semacam ini bersama petugas gabungan agar masyarakat teredukasi dengan baik tentang hukumnya jika menjual rokok ilegal,” kata Aman.

Barang bukti ribuan rokok ilegal itu pun disita oleh tim penindakan dan diserahkan ke Bea Cukai Probolinggo. Untuk pemilik akan diproses di kantor Bea Cukai untuk dimintai keterangan sekaligus pembinaan. 

Lapak Makanan Ringan di Pasar Piyeng Pohsangit Kidul Terbakar

Lapak Makanan Ringan di Pasar Piyeng Pohsangit Kidul Terbakar

Sebuah lapak makanan ringan di Pasar Piyeng, Kelurahan Pohsangit Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo terbakar, Rabu sore (28/9/2022). Dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) yang datang dengan cepat berhasil memadamkan api sehingga tak sampai merembet ke lapak-lapak lain.

Kebakaran lapak penjual makanan ringan milik Suryatin (60), warga Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih itu terjadi sekitar pukul 15.00. Asap dan api yang muncul pada lapak dengan cepat membesar dan membakar bagian dalam lapak.

“Saat kebakaran terjadi, saya ada di rumah, dan setelah mendapat telepon, saya kemudian datang ke pasar dan melihat api sudah membakar lapak saya. Kerugian akibat kebakaran ini sekitar Rp50 juta,” ujar Suryatin.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut, kemudian melakukan pemadaman dengan air seadanya. Sebagian warga melaporkan kejadian ke petugas pemadam kebakaran. Tak lama kemudian dua mobil damkar milik Pemkot Probolinggo datang dan langsung melakukan penyemprotan.

Tak sampai satu jam petugas damkar berhasil melokalisir api yang membakar lapak. Sehingga api tak sampai menjalar ke lapak-lapak lain yang rata-rata terbuat dari kayu atau semi permanen.

Komandan Regu 3, Damkar Pemkot Probolinggo, Sukirno mengatakan, laporan kebakaran ini masuk ke 112 sekitar pukul 15.00. Damkar kemudian mengerahkan dua mobil pemadam.

“Alhamdulillah pemadaman api membutuhkan waktu tak sampai 30 menit, dan untuk penyebab kebakaran diduga karena korsleting listrik,” ujarnya.

rencana aksi 2021INDIKATORBANER.jpgrencana startegis 2021LKJIP 2020renja 2021perjanjian kerja 2021 data pegawai 2021 SKM 2021

Talk to Us - Offcanvas

Hubungi Kami

Telp  (0335) 420266 (sekertariat)
Telp (0335)  421113  (Pemadam Kebakaran)